di balik baju lusuh
badan penuh lumpur
caping menempel kuat di kepala
lindungi wajah tua
tergurat waktu
bau lumpur kuku hitam
hiasi keseharianmu
turun kesawah saban pagi
bawa pencul
tunggu nasi dari anak ketika siang menjelang
makan dengan lahap dan habiskan lelah
pulang sore tertidur sampai malam
tangisi nasib...
ibuku kecapek-an
hidup berkelahi zaman
tanpa suami
hanya anak-anak yang mulai beranjak dewasa
29 July 2006
Ibu
oleh
Harfianto Afgani
Pukul
5:29 PM
0
Comment
Link ke posting ini
12 July 2006
Bung, Kita Perlu Revolusi
Sebuah jarum baru saja jatuh ke dalam tumpukan jerami. Seorang laki-laki berkeinginan segera menikah. Sebuah pesawat baru saja hilang. Seorang kepala negara paling bebal sedunia, baru saja berkunjung. Sebuah permusuhan harus segera di khiri. Seorang anak baru saja dilahirkan. Seorang wanita baru saja kabur dari rumah. Masa depan seseorang baru saja dimulai. Itu sederet persoalan yang sering menjadi perbincangan kita. Sekilas tidak ada yang khusus dan tidak ada jaring penghubung yang bisa teramati. Namun jika kita telisik lebih dalam , akan terlihat benang merah jaring-jaring penghubung masalah tersebut.
Apakah irasionalisme memang sengaja di pelihara penjajah Belanda, sebagai legitimasi keberadaan mereka. Karena konon kabarnya, mereka mengajarkan bahwa raja adalah pemegang sabda tuhan yang mesti dituruti. Tempat keramat menjadi wilayah sakti, yang dialrang dimasuki tanpa prosesi.Kita harus akui tahayul memang menjadi keseharian bangsa kita. Jauh sebelum Indonesa lahir, Tan malaka dalam madilog, telah mengajak bangsa ini untuk berfikir secara logika.
Kendati diakui, tidak semua bisa di logikakan. Elektron misalnya, sebagai elemen dasar materi, dia tidak bisa disaksikan secara kasat mata. Apakah ia tidak ada?. Pertanyaannya adalah apakah yang masuk akal hanya yang teramati panca indra.
Jawabannya pasti tidak, karena jika itu yang kita anut. Kita telah menafikan keberadaan Tuhan. Memakai dukun dan paranormal sebagai sandaran dalam hidup, terlalu mensimplikasi. Beralih ke dukun terjadi ketika Tuhan tidak lagi ajaib. Ada kekosongan relijius dalam diri kita. Yang kemudian kita isi dengan irasionalisme.(*)
oleh
Harfianto Afgani
Pukul
12:48 AM
0
Comment
Link ke posting ini
