Selamat Datang

Anda memasuki kawasan bebas berfikir dan berpendapat

06 October 2007

Sesat Telusupi Umat

Pagi baru saja dimulai. Kawasan Jalan Dr Sutomo Padang yang biasanya tenang dipagi hari, mendadak buncah. Ratusan orang berkumpul di halaman sebuah ruko berlantai dua di jalan itu. Mereka laki-laki dan perempuan, membawa poster bernada protes.

Hari itu, Selasa (2/10) pagi. Sejak pukul 7.00 wib, massa sudah menyemuti halaman gedung itu. Jumlahnya pun terus bertambah. Mereka datang mengunakan sepeda motor dan mobil. Masa yang berkumpul segera menggelar orasi dan mengacungkan tangan. Puncaknya, massa yang terdiri dari ormas Islam, pemuda dan mahasiswa ini mendobrak pintu depan ruko yang terkunci rapat. Braakkk. Mereka masuk dan kemudian menyegel gedung itu.

Sebanyak 12 penghuninya kaget. Aparat keamanan yang datang, langsung mengevakuasi mereka ke Mapoltabes Kota Padang. Upaya itu dilakukan untuk menghindari, kalau-kalau saja emosi masa terpancing dan menghakimi mereka. Lantas apa sebenarnya yang terjadi di pagi hari itu. Ternyata ratusan warga dan ormas Islam ini menggerebek markas sebuah aliran yang menamakan diri Al Qiyadah Al Islamiyah. Aliran ini telah difatwa sesat dan menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan nomor fatwa 1/Kpt.F/MUI-SB/IX/2007.

Ibarat angin, kabar keberadaan aliran sesat Al Qiyadah Al Islamiyah itu langsung menyebar ke tanah air. Di belahan Indonesia lainnya, keberdaan ajaran ini juga menguak. Adalah Ahmad Moshaddeq yang menjadi pemimpin ajaran ini. Kepada pengikutnya pria ini mengaku sebagai nabi dan telah menerima wahyu setelah bertapa selama 40 hari 40 malam dan memproklamirkan diri sebagai rasul menggantikan Nabi Muhammad SAW pada 23 Juli 2006.

Lalu bagaimana ajaran ini bisa masuk ke Ranah Minang ini? Menurut bocoran dari dua calon pengikutnya, Tasmawardi dan Guspardi yang urung bergabung begitu mengetahui kesesatan ajaran itu, mengatakan ajaran ini masuk ke Padang dibawa Eri Mulyadi pada 2004. Awalnya mereka hanya menggelar pengajian biasa layaknya sebuah wirid rutin yang kerap dilakukan suatu majelis taklim di sebuah perusahaan di Kota Padang. Ajaran yang dibawa Eri Mulyadi yang merupakan kakak dari Dedi Priyadi (pemimpin Al Qiyadah di Kota Padang) ini, dalam "memperkenalkan" diri mulanya masih berpijak pada syariat Islam. Hingga beberapa bulan kemudian, barulah terungkap kejanggalan-kejanggalan ajarannya.

Salah satunya, mereka menganggap shalat tidak wajib dilakukan lima waktu. Menurut ajaran ini kondisi ini sama dengan kondisi Makkiyah (atau era sebelum nabi Muhammad hijrah ke Madinah). Sehingga shalat tidak begitu diwajibkan.

Pengajian yang belum punya nama ini, pada 23 Juli 2006 barulah mendeklarasikan diri dengan nama Al Qiyadah Al Islamiyah, yang mempunyai syahadat sendiri dan menjadikan Ahmad Mushaddeq sebagai nabi dengan penyebutan Al Masih Al Maud. Sejak itu dimulailah perioderisasi penyebaran ajaran yanag didasarkan fase-fase yang mereka ciptakan sendiri.
Fase pertama adalah fase sembunyi-sembunyi. Mereka menyebarkan ajarannya dari rumah ke rumah. Setelah pengikut mulai banyak, masuk ke fase jahran (membuka diri). Di fase ini mereka terang-terangan menyebarkan ajarannya, termasuk melalui surat elektronik (email). Lalu ada fase hijrah (pindah), kemudian fase perang untuk memerangi semua umat beragama lainnya yang bagi mereka adalah sesat. Setelah itu ada fase kemenangan dan berakhir dengan fase membentuk pemerintahan sendiri.

Untuk saat ini, bisa disimpulkan mereka masih berada pada fase membuka diri, hingga akhirnya kesesatan mereka terungkap dan menjadi pemberitaan di mana-mana. Dalam fase membuka diri, penyebaran ajaran yang mereka lakukan di Padang, dilaksanakan dengan mewajibkan para pengikutnya untuk mendapatkan satu pengikut baru tiap bulannya. Ditaksir, saat ini ada sekitar 2000-an pengikut Al Qiyadah yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Sumbar. Aliran ini telah "mengembangkan sayap" ke Pesisir Selatan, Pasaman, Pariaman meliputi Kayu Tanam dan Lubuak Aluang, Solok dan Kota Padang. Bahkan pengikut yang ada di Padang menebar jaringan pula ke Muaro Bungo, Jambi dan Palembang.

Untuk mendapatkan pengikut baru ini, tak jarang mereka memaksa orang tua atau keluarganya untuk bergabung. Maka jangan heran bila ada anak yang melawan orang tuanya karena "ogah" bergabung dengan "kebenaran" versi mereka itu. Bagi anak yang hidup mapan, orang tua yang tinggal bersamanya akan diusir. Atau bila dia masih tinggal dengan orang tua, maka pilihannya adalah kabur dari rumah.

Lantas bagaimana orang-orang bisa begitu mudah mempercayai ajaran ini? Menurut Tasmawardi, itu disebabkan kurangnya pemahaman yang bersangkutan atas Islam yang telah dianutnya. Selain itu pengaruh pergaulan dan lingkungan tempat kerja serta keinginan untuk mencari kebenaran agama juga tidak bisa dinafikan.

Alasan untuk mencari kebenaran ini setidaknya terungkap dari mulut Mardimin (43), yang menyatakan tobat dan kembali mengucapkan syahadat, Kamis (1/11) lalu. Warga Blob B Perumahan Ulu Gadut Padang ini, awalnya dikenal warga sebagai imam masjid di kompleknya. Beberapa warga yang sempat ditemui disela-sela prosesi pensyahadatan di Masjid Darul Ulum Blok B Perumahan Ulu Gadut mengatakan sebelum mengikuti ajaran tersebut, Mardimin adalah alim dalam arti yang sebenarnya. Selain menjadi imam sholat berjamaah di masjid, pria yang sehari-harinya menjadi PNS di Universitas Andalas ini juga seorang mubaliq. Kerap kali dia memberikan wejangan agama kepada masyarakat.
Namun 10 bulan yang lalu, sikap Mardimin mulai berubah. Dia yang biasanya menjadi imam, mulai tidak lagi melakukan sholat jamaah. Bahkan datang ke masjid pun sudah mulai jarang. Begitu juga dengan sholat subuh bersama. Nyaris sejak menjadi pengikut ajaran itu, Mardimin memisahkan diri dari kegiatan agama warga. Puncaknya, pertengahan ramadhan 1428 H yang lalu, Mardimin dan keluarganya mengadakan pengajian dengan sesama pengkut Al Qiyadah Al Islamiyah lainnya di kediaman mereka.

Beberapa warga di Masjid Darul Ulum menduga perkenalan Mardimin dengan ajaran sesat itu dimulai di lingkungan tempat dia bekerja. Ketika ditanyakan warga, Mardimin mengatakan dia hanya ingin mendalami agama dan mencari kebenaran. Hanya itu. "Sejak sikap dia mulai berubah, kami mulai curiga. Suatu waktu seusai sholat subuh, kami mengajak dia lari pagi. Saat itulah kami tanyakan, bahkan sempat terjadi perdebatan dengan warga waktu itu. Dia mengatakan, hanya ingin mencari kebenaran dan mendalami agama," kata Ketua RW 1 Blok B Ulu Gadut Padang, Drs Suhandal Muktar MM.

Berbagai pendekatan persuasif dilakukan warga. Walaupun meyakini ajaran yang diduga sesat, warga kata Suhandal tidak pernah mengucilkan Mardimin. Pergaulan sehari-hari dilakukan seperti biasanya, hanya saja disela-sela kehidupan sehari-hari itu, mereka tetap berusaha memberikan masukan dan mencoba menarik Mardimin kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

Upaya keras ini pun kemudian membuahkan hasil. Pada Kamis, 11 November 2007 silam, Mardimin berserta Istrinya Yurniati (40), anak sulungnya Ari (15) dan satu orang pembantunya, Sarah (13), melafazkan syahadatin kembali. Disaksikan ratusan warga yang memadati masjid itu, Mardimin sekeluarga dipandu oleh ketua bidang fatwa MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar, untuk mengucapkan syahadat kembali. Disaksikan warga, Mardimin menyatakan tidak mengakui lagi seluruh ajaran Ahmad Mushaddeq ini.

"Ini satu hal yang luar biasa bagi saya dan keluarga, ini peritiwa yang sakral bagi kami. Saya sudah terlalu jauh berjalan mencari kebenaran. Dan sekarang saya kembali lagi ke jamaah dimana saya pernah bersama mereka. Saya akan berusaha menarik teman-teman saya yang lain untuk kembali ke jalan Islam," kata Mardimin didepan para jamaah.

Sejak media massa gencar memberitakan tentang ajaran ini, satu demi satu pengikut Al Qiyadah Al lslamiyah di Kota Padang meyatakan tobat dan keluar dari ajaran ini. Sebelum Mardimin sekeluarga, pengucapan syahadat kembali juga dilakukan Rinto Widjaya, Ayu, Dasril Darwin, Rustam E dan pengikut lainnya.

Ketua bidang Fatwa MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar mengatakan dengan pengucapakn kembali kalimat syahdat itu, mereka kembali menjadi muslim. Dosen IAIN Imam Bonjol Padang ini meminta setiap umat muslim menerima mereka kembali sebagaimana biasanya. "Maka itu bagi mereka yang sudah mengucapkan syahadat kembali, dan menemui keraguan-keraguan yang sulit dicari jawabannya, MUI selalu membuka diri," kata Gusrizal Gazahar.

Terlepas dari itu semua, kita sebagai umat muslim tetap harus waspada. Karena aliran sesat dan menyesatkan ini bukan hanya Al Qiyadah Al Islamiyah. Kalau boleh dikatakan ajaran sesat sekarang sedang menjadi tren. Belum selesai yang satu, sudah muncul yang lainnya. Setidaknya, ada beberapa ajaran yang sudah di fatwa MUI sesat seperti Ahmadiyah, Darul Arqom, Islam Jamaah/Darul Hadits, LDII, NII Al Zaytun, Baha'i, Lembaga Kerasulan, Mahesa Kurung, Isa Bugis, Kerajaan Tuhan, Al Qur'an Suci dan banyak lagi, termasuk Jamiyatul Islamiyah yang sempat bikin heboh Kota Padang pada Oktober 2006 silam. (****)

Kesesatan Al Qiyadah Al Islamiyah

Berdasarkan fatwa MUI No 1/Kpt.F/MUI-SB/IX/2007, terdapat sembilan ajarannya yang bertentangan dengan ajaran Islam.

1. Al Qiyadah Islamiyah mengubah syahadatain dari yang seharusnya “asyhadu alla ilha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah menjadi Asyhadu alla ilaha illallah wa asyahadu anna masihal mau’udar Rasulullah”,

2. Aliran ini mengingkari kewajiban lima waktu, bagi mereka shalat yang wajib hanya qiyamulail saja (sholat malam),

3. Menyakini adanya rasul setelah Rasulullah Muhammad SAW yaitu al-masih al-mau’ud (al masih yang dijanjikan), yang mengiklankan diri pada tanggal 23 Juli 2006 di Gunung Bunder Bogor.

4. Al-Qiyadah al-Islamiyah memandang umat lain yang tidak masuk anggotanya sebagai orang musyrik dan najis,

5. Aliran ini mengingkari Sunah Rasul atau hadist Nabi Muhammad secara menyeluruh.

6. Menyakini bahwa peran kerasulan Muhammad SAW sudah berakhir dengan kematiannya, dan digantikan dengan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasul al Masih al Mau-ud.

7. Mereka juga melakukan penafsiran Alquran menurut hawa nafsu tidak mengikuti kaidah-kaidah bahasa Arab dan kaidah ilmu tafsir seperti surat Al –A’raf ayat 185 digunakan sebagai alasan menolak hadist atau sunnah nabi.

8. Aliran ini dalam ajarannya telah mencampur adukan antara Islam dan Injil.

9. Aliran ini menyebarkan gerakkan yang berpotensi memecah belah umat karena dalam ajarannya mereka terdapat lima fase gerakan perjuangannya salah satunya ada fase qital (memerangi orang yang tidak masuk dalam kelompok mereka).

Read More......

29 September 2007

Data Gempa yang Terus Bergetar

Bumi tiba-tiba berguncang. Bangunan dan pepohonan terhuyun-huyun. Warga yang sedang menikmati pagi hari itu, sontak panik. Mereka tiba-tiba berhamburan keluar ruangan. Pengendara yang sedang melaju, segera meminggirkan kendaraannya. Teriak takbir "Allah Huakbar...Allah Huakbar, terdengar mendesis dari mulut setiap orang. Sumbar sedang diguncang gempa. Saat itu, Kamis (13/9), umat muslim sedang berada dalam suasana ramadhan hari pertama. Ujian datang tanpa mengenal waktu.

Jalanan yang tadinya sepi, mendadak dipenuhi kendaraan. Dengan berkain sarung dan muka yang tidak sempat di cuci, warga berlarian meninggalkan rumahnya masing-masing. Beberapa orang tampak terguncang. Wajar, karena beberapa jam sebelumnya, mereka "terpaksa" harus bangun lebih pagi untuk sahur pertama.

Gempa dengan kekuatan diatas 7 SR ini, menyebabkan kerusakan di berbagai bangunan diberbagai kabupaten di Sumbar. Menurut catatan Satkorlak Sumbra, Peisisir Selatan dan Mentawai menjadi kabupaten terparah terkena bencana ini. Duka kembali menghampiri Ranah Minang ini.

Gempa telah usai? lantas sekarang apa? Beberapa hari pasca gempa kamis pagi itu, Satkorlak Sumbar mulai merilis data. Gempa dengan kekuatan 7,9 SR itu menyebakan 13.966 rumah rusak di Pessel, 4.789 di Kepulauan Mentawai, 2.334 di Padang Pariaman dan 3.318 di kota Padang atau total kerusakannya 24,825 rumah di seluruh Sumbar. Jika dikonversikan dengan uang, bencana kali ini mengakibatkan kerugian mencapai Rp 1,452 triliun.

Bicara soal data, kita bicara soal bantuan. Karena kevalidan data menjadi acuan besarnya bantuan yang akan dikucurkan. Dalam kunjungannya ke Pessel, kemarin, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, memberi perhatian lebih soal data. Menurutnya, kucuran bantuan yang akan diberikan tergantung dengan kebutuhan daerah masing-masing. Secara tidak langsung, SBY mengintruksikan pemerintah daerah untuk melansir data yang valid.

Mungkin belum lepas dari ingatan kita, bagaimana gempa hebat juga melanda propinsi ini, 6 Maret 2007 silam. Kondisi yang sama kembali terulang. Warga mengungsi, rumah-rumah hancur dan kepanikan di mana-mana.

Namun ada yang membuat kita miris. Ternyata masih ada korban gempa 6 Maret itu yang masih tidur ditenda. Mereka mengaku masih belum mendapatkan bantuan seperti yang dijanjikan. Bahkan informasi di lapangan ada bantuan yang salah sasaran. Warga yang semestinya tidak berhak mendapatkan, namun menerima juga.

Apakah ini akan terulang pada bencana kali ini? Jawabannya bisa ya, jika pola penanganan bencana tidak komprehensif. Dalam artian, bantuan yang diberikan tidak berdasarkan kondisi dilapangan. Untuki jangka panjang, tim verifikasi independen yang terdiri dari kalangan akedemisi dan praktisi mesti dilibatkan dalam melakukan verifikasi data. Tujuannya hanya satu, dengan tim yang sama maka data yang akan didapatkan juga akan sama. Akan ada standar penilaian yang sama, apakah sebuah bangunan masuk kategori rusak parah, rusak sedang atau ringan. Besar harapannya, bantuan yang akan diberikan akan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi kerusakan yang ada.(*)

Read More......

29 August 2007

Lewat Job Fair, Gaet Masa Depan

"awak caliak-caliak se dulu da. Kalau cocok, baru wak masukan lamaran. Tapi dari tadi, lun adoh yang cocok lai. Ndak adoh yang sasuai dengan jurusan awak do,".Kalimat itu terlontar dari mulut Rika (22), salah seorang pengunjung Job Far V di halaman kantor Gubernur Sumbar, Rabu (29/8).

Rika adalah satu dari ribuan pencari kerja (pencaker) yang sejak pagi telah memadati sayap kanan lapangan kantor gubernur Sumbar. Alumnus jurusan kimia Universitas Andalas tahun 2007 ini tidak sendiri. Dia bersama pencaker lainnya memperebutkan 3000-an lowongan kerja yang disediakan 30 perusahaan peserta Job Fair.

Sedikit kekecewaan tergurat jelas diwajahnya. Dia bersungut-sungut, karena perusahaan yang diincarnya tidak ikut dalam Job Fair tersebut. Sebagai alumnus Kimia, Rika mengimpikan bekerja di PT Semen Padang (PTSP). Soalnya, pabrik semen tertua di Indonesia ini, selain perusahaan terbesar di Sumbar juga menyediakan bidang kerja yang sesuai dengan background pendidikannya.

"Lah wak caliak lowongan-lowongan disiko, tapi ndak adoh yang untuk anak kimia. Kalau ndak adoh juo, ndak jadi wak masukan lamaran. Wak tunggu se tes PNS Oktober," kata Rika yang mengampit map plastik berisi amplop berwarna kuning. Sepertinya dalam amplop itu terhimpun semua berkas yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan seperti ijazah, pas photo, kartu pencaker dan bahan lainnya.

Harapan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikan di arena Job fair ini, juga diimpikan Adi (24). Lulusan pertanian Unand ini, celingak-celinguk memperhatikan semua persyaratan yang diminta perusahaan. Namun lagi-lagi, pria asal Bukitinggi ini agak kecewa. Dia tidak menemukan lowongan pekerjaan yang diingininya.

"Lebih banyak lowongan jadi TKI ke luar negeri. Kenapa perusahan perkebunan sawit yang ada di Sumbar tidak ikut serta dalam ajang ini," kata pria yang menamatkan SMA di salah satu sekolah negeri di Jakarta ini.

Kendati tidak ada lowongan yang sesuai dengan jurusannya, Adi mengatakan dirinya akan tetap mengajukan lamaran sebagai tenaga administrasi. Ini semata-mata dilakukannya, asalkan ada pekerjaan. Sejak menamatkan studi dari Unand satu tahun lalu, dia sudah jenuh menjadu pengangguran.

Berbeda dengan keduanya yang tetap mengingikan pekerjaan sesuai jurusan awal, Esi Rahmayanti (23) yang juga lulusan pertanian Unand, justru pasrah dengan susahnya lapangan kerja saat ini. Kepada koran ini, wanita berjilbab ini siap bekerja dimana saja. Dia sadar, dengan memilih-milih pekerjaan, dia harus siap menjadi pengangguran dalam waktu lama.

"Yang diatas sudah mengatur hidup kita, bagaiman nasib saya nantinya. Saya hanya tinggal jalani saja," tukas Esa.

Namun dari sekian ribu pengunjung Job fair, tidak semuanya yang langsung membawa berkas lamaran. Irham misalnya, lulusan sejarah Unand ini datang tanpa membawa apa-apa. Kedatangnnya ke arena Job fair hanya sekedar melihat-lihat saja. Jika ada lowongan yang cocok, baru hari selanjutnya dia membawa berkas lamaran.

Jumlah pengangguran di Sumbar terus saja meningkat. Menurut Gubernur Sumbar, Ganawan Fauzi, setiap tahun sedikitnya 16 ribu sarjana baru dihasilkan perguruan tinggi. Mereka harus bersaing dengan 264 ribu pengangguran lainnya, memperebutkan lowongan pekerjaan yang tidak seberapa.

Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Sumbar, dari 1,981 juta orang angkatan kerja di Sumbar, sampai Juni 2007 pencaker yang tercatat mencari pekerjaan sebanyak 118,879 ribu. Ratusan ribu pencaker tersebut didominasi lulusan SMA (60,2) dan lulusan S1 (21 %).

Kenyataan itu tergambar jelas dengan membludaknya pengunjung Job Fair V dihari pertama ini. Mereka rela antri sambil berpanas ria, menenteng map dan saling berdesakan, demi pekerjaan yang sering kali tidak sesuai dengan keinginan mereka.(**)

Read More......

28 August 2007

Gaya Mediterania di Komplek Taman Bunga Residence

Menenemukan rumah idaman yang mewah dengan beragam fasilitas tidaklah sulit. Banyak pengembang menawarkan hal seperti itu. Tetapi apakah kemewahan saja sudah cukup. Bagaimana dengan kemanannya.

Disaat maraknya kasus kejahatan di komplek perumahan, faktor keamanan justru menjadi yang utama. Setiap konsumen harus benar-benar menelisik bagaimana sistem security dikomplek itu. Sebelum membeli, harus diperhatikan benar apakah komplek itu memiliki tenaga pengaman (satpam), berapa jalur masuk dan keluar komplek. Semakin banyak jalan masuk atau keluar, biasanya makin rawan kejahatan, karena makin tidak terpantau siapa-siapa saja "tamu" yang berkunjung.

Intinya, selain fasilitas atau akses, kemanan juga mesti menjadi pertimbangan utama sebelum anda membeli rumah. Apa jadinya, saat penghuni kembali dari berpergian keluar kota misalnya, menemukan rumah dan isinya diacak-acak orang tak dikenal. Syukur-syukur tidak ada barang berharga yang hilang. Stres dan menyesal, sudah pasti.

Memberikan kemanan dan kenyaman penghuni, itulah prioritas utama yang diusung PT Bunga Mas Mandiri, dalam membangun Komplek Perumahan Taman Bunga Residence di JaLan Adinegoro Tabing. Dalam menjamin kemanan penghuni komplek, pengembang sengaja menyatukan gerbang masuk dan keluar dalam satu pintu namun dua jalur.

Selain gerbang satu pintu dua jalur ini, komplek Taman Bunga Residence juga dilengkapi tenaga kemanan (security) yang menjamin kemanan penghuni 24 jam nonstop/Sistem Security Terpadu. Untuk makin membuat penghuni aman, PT Bunga Mas Mandiri sebagai pengembang juga melingkupi komplek perumahan ini dengan pagar.

Taman Bunga Residence bukan saja unggul dari segi keamanannya, namun juga didukung berbagai sarana dan fasilitas. Yang tak kalah penting, begitu terima kunci pemilik sudah bisa langsung menempatinya. Karena telah dialiri air dari PDAM dan listrik.

Lokasinya yang tepat berada ditepi JaLan Adinegoro Tabing Padang ini, sangat dekat dengan sarana pendidikan dan mudah diakses darimana saja. Dengan dukungan sarana tranportasi 24 jam penuh, kosumen tidak akan rugi memiliki hunian di Taman Bunga Residence. Pasalnya, dengan perkembangan Kota Padang yang makin pesat, rumah di Taman Bunga Residence bisa menjadi investasi jangka panjang yang menjanjikan.

Bergaya Mediterania

Komplek perumahan yang mulai dibangun sejak tahun 2005 ini terdiri atas 160 kapling dengan tipe rumah yang beragam. Mulai tipe 36-120, sampai tipe bebas. Masing-masing tipe memiliki spesifikasi minimalis dengan nuasa yang berbeda. Untuk tipe 36 atau century berkonsep Rumah Ideal Eksklusif. Sedangkan tipe 54,70 dan 100 mengadopsi nuasa rumah-rumah bergaya Mediterania.

"Kita memang sengaja membangun lebih banyak rumah bergaya Mediterania, karena model-model seperti itu sedang digandrungi saat ini. Ya, tentu saja dengan harga yang terjangkau," kata Direktur Utama PT Bunga Mas Mandiri, Roni Setiawan yang ditemui koran ini di ruangannya, Sabtu (26/8).

Langgam arsitektur Mediterania, pernah digandrungi konsumen pada tahun 1980. Konsep minimalis ini kembali "dilirik" dan dikombinasikan dengan interior modern. Ciri khas gaya mediterania seperti bentuk melengkung, tekstur dinding yang kasar sampai besi tempa sebagai ornamen dekoratif diaplikasikan dalam desain sebuah hunian. Penghuninya serasa berada dalam vila di tepi pantai Laut Karibia.

Mengacu pada prinsip desain gaya mediterania, tiga tipe rumah di Komplek Taman Bunga ini, memiliki atap berbentuk pelana dengan kemiringan rendah (flat roof) dan teritis yang pendek. Desain rumah ini lebih menonjolkan sosok blok massa hunian yang dirancang berbentuk huruf U dan ditutup oleh satu atap utama. Bagian tertentu dari bangunan seperti area pintu masuk utama dan paviliun untuk tamu, ditutup oleh susunan portico sedangkan setiap jendela dinaungi oleh kanopi sehingga hunian tampil lebih dinamis. Penerapan prinsip mediterania pada desain rumah ini juga terlihat pada deretan kolom dan balok berbentuk melengkung (arches).

"Selain tipe diatas, kita juga menawarkan tipe bebas. Pada tipe ini pembeli diberikan kebebasan memilih model dan denah rumah sesuai dengan keinginannya. Gambar dan arsitekturnya disediakan oleh developer dan harga jualnya disepakati bersama," tukas lulusan Fakultas Ekonomi salah satu PTS di Kota Padang ini.

Disebutkan Roni, setiap perumahan di Komplek Taman Bunga Residence memiliki spesifikasi teknik, seperti pondasi dengan pasangan batu kali plat beton bertulang (untuk lantai dua), kemudian lantai, Wc/kamar mandi dan plat dapur dari keramik, atap menggunakan genteng metal/beton. Selanjunya, dinding terbuat dari batu bata yang diplester dan aci, kunsen dari kayu meranti/timbalun/borneo, Plafond dari triplek. Sementara itu, saluran drainase dibuat dengan cor beton diplester, demikian juga halnya jalan komplek.(**)

Read More......