Selamat Datang

Anda memasuki kawasan bebas berfikir dan berpendapat

19 November 2007

Mengenal Es Ito, Penulis Novel Rahasia Meede (1)

MEMPERKENALKAN INDONESIA SECARA UTUH

Bersemangat dan tidak jarang meledak-ledak. Mengkonstruksi disatu sisi tapi melakukan dekonstruksi di tempat lain. Memiliki pandangan jauh dalam membangun bangsa, khas kaum muda. Itulah ES Ito, penulis Novel Rahasia Meede. Berbicara dengan anak muda ini seperti berbicara dengan pemikir politik ketimbang seorang novelis.

ES Ito, penulis muda kelahiran Sumbar. Pujian setinggi langit diberikan banyak pihak pada buah karyanya, Rahasia Meede. Tidak salah memang, membaca Rahasia Meede kita menemukan realitas Indonesia yang sebenarnya. Sangat bertolak belakang dengan apa yang digambarkan dalam cerita-cerita sinetron atau novel-novel picisan lainnya. Pram muda sudah lahir.

"Pramudya Ananta Toer muda sudah lahir dengan kompleksitas penulis generasi abad 21 tetapi tetap gigih membela manusia dan merayakan kebebasan," kata essais dan penyair M Fadjroel Rachman dalam sepenggal pujiannya atas Rahasia Meede.

Pendapat Fadjroel Rahman itu kemudian dibantahnya. Dalam sebuah wawancara di Padang, Kamis (14/11), ES Ito mengatakan antara dia dengan Pram jelas sangat berbeda. Pram membangun kemegahannnya sendiri, dan dia juga sedang membangun kemegahannya sendiri. Siapa yang berhasil, waktu yang akan membuktikan. "Tapi penggambaran itu sah-sah saja. Karena siapapun yang menulis soal bangsa hari ini, pasti akan mirip dengan Pram," tandasnya pada malam itu.

"Setelah Pram, novel sejarah seperti ruang kosong yang tidak terisi. Penulis-penulis Indonesia terlalu sibuk dengan trend kediriannya masing-masing. Mereka ingin menularkan pengalamannya yang pahit tentang pendidikan, kisah cinta yang terlalu dilebih-lebihkan, misalnya. Itu tidak memberikan pencerahan terhadap bangsa. Tapi kalau penulis ingin memberikan pencerahan, dia harus melihat ke belakang," ungkap
putra pasangan Suardi Katik Batuah dengan Rosnadiar ini menjelaskan alasan ketertarikannya menulis novel sejarah.

Perbedaanya dengan Pram, bukan cuma dalam membangun kemegahan. Banyak hal lainnya. Pram menurutnya terlalu sibuk dengan Jawa dan melupakan Indonesia yang lain. Sedang Es Ito, membangun Indonesia. Menampilkannya dalam kesatuan bangsa yang utuh dalam satu entitas yang terbentuk sejak berpuluh-puluh abad silam.

Pram, menurut ES Ito tidak mencoba mengangkat bagian lain dari Indonesia untuk memberikan semangat perlawannan. Dia menafikan peran suku bangsa lain dalam mendirikan republik ini. Pram dalam novelnya bicara tentang medan priyayi, dan itu sangat Jawa. Tidak semua suku bangsa memiliki penulis. Tidak ada orang Papua, Bugis dan lainnya yang jadi penulis terkenal. Siapa yang akan mengangkat mereka.

"Bagaimana feel (perasaan) orang Papua terhadap republik ini, jika dia tidak menjadi bagian dari entitas budaya republik ini. Tidak ada yang bisa memastikan kalau Papua satu nasionalisme dengan suku bangsa lainnya, seperti jawa yang digambarkan Pram. Harus ada yang memulai. Karena, sejarah berada pada posisi berbeda. Waktu tidaklah linear. Waktu itu acak. Apa yang terjadi dimasa lampau bisa saja terjadi dimasa
mendatang. Sejarah bukan sesuatu yang hilang ditelan begitu oleh waktu. Menulis sejarah berarti memprediksi masa depan. Dan tugas seorang penulis adalah menggariskan masa depan. Tugas ini belum banyak yang mengambilnya," kata ES Ito.

Dia juga menolak disamakan dengan Dan Brown, penulis novel fenomenal Da Vinci Code. Meski diakuinya memiliki gaya penceriataan yang sama, namun dia menolak mengekor Brown. Dikatakan ES Ito perbedaan mendasarnya dengan Brown adalah, Brown mengangkat isu-isu kuno soal agama. Novelnya menjadi menarik karena menyentuh standar moral seseorang soal agama. Sedang dia, mencipatan dunia baru, membuat peradaban baru.

"Saya memperkenalkan Indonesia pada dunia secara utuh. Brown tidak. Dia hanya mempromosikan sesuatu yang sudah terjadi dimasa lalu. Konflik agama. Itu lumrah," ujarnya.

Lalu apa tugas seorang penulis sebenarnya? Penulis, kata Ito, harus memberikan kesadaran baru kepada masyarakat, membengkokan peradaban. Itulah yang dilakukan Maxim Gorki yang menginspirasi revolusi Bolsyevik tahun 1917 lewat Novel Ibunda yang ditulisnya pada 1906. Itu juga yang dilakukan Pram dengan tetraloginya, walau semua tahu, itu tidak memberikan dampak politik apa-apa bagi Indonesia, kecuali Partai Rakyat Demokratik (PRD). Itu juga yang dilakukan penulis Ceko yang menumbangkan Rezim Sosialis di Ceko. Kata-kata mereka jauh lebih kuat dari tank-tank Soviet yang ada di Ceko.(nto)

Read More......

12 November 2007

Arena Book Fair III : Boyong Toko Sampai Bursa Buku Murah

Di hari kedua pelaksanaannya, ratusan pengunjung memadati arena Book Fair III di Gedung Bagindo Aziz. Janji akan adanya diskon seperti yang dikatakan panitia memang benar adanya. Semua stand yang mengisi arena memberikan diskon yang berbeda. Bahkan ada yang memajang tulisan "bursa buku murah Rp 10.000".

Dari puluhan stand yang ada, kehadiran toko buku Gramedia tentu saja menarik perhatian. Selain satu-satunya toko buku terbesar di Sumbar, Garmadia juga memboyong semua jenis koleksinya ke arena ini. Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya 5000 eksemplar dari 30 group/jenis koleksi buku didatangkan ke Bagindo Aziz Chan. Demikian juga dari segi tempat, separuh bagian tengah Gedung Bagindo Aziz Chan ini jadi miliknya Gramedia.

" Gramedia boyong tokonya," itulah komentar Naini (40), ibu rumah tangga ketika diminta komentarnya soal stand Gramedia.

Pernyataan Naini yang datang bersama putranya ini tentu saja tidak salah. Selain lokasi yang lebih besar, susunan dan konfigurasi koleksi buku Gramedia memang dibuat sebagaimana biasa kita saksikan di tokonya. Semua koleksi dipajang di rak-rak buku yang diisi pada kedua belah sisinya. Begitu juga buku-buku baru, disusun rapi di atas meja sembari ada kalimat buku baru diatasnya.

Demikian juga dengan pelayanannya, tidak ada perbedaan. Semuanya dilakukan ala Gramedia. "Semuanya memang ciri khasnya Gramedia. Mulai dari susunan buku, pelayanan dan semunya sama," kata Penanggungjawab stand Gramedia, Waluyo, yang diwawancarai disela-sela kesibukannya melayani penggungjung.

"Bukan boyong toko. Pada mulanya kami dapat tempat separuh dari besar yang sekarang. Tetapi panita menawarkan yang separuhnya lagi, kebetulan waktu itu masih kosong. Jadilah kami dapat yang lebih luas," terang Waluyo.

Selama dua hari berpameran, buku yang paling laris diburu pembeli adalah Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hiraka. Selama dua hari itu, buku yang menjadi best seller nasional ini habis terjual 200 eksemplar. Pernyatan Waluyo soal laskar Pelangi, terbukti. Hanya dalam beberapa saat saja, saya sudah melihat beberapa perempuan mengapit buku itu. Salah satu diantaranya mengatakan dia tertarik membaca novel ini karena diangkat dari kisah nyata.

Ketertarikannya untuk membeli buku Laksar Pelangi bertambah ketika acara Talk Show Kick Andys di Metro TV mengulas kisah ini dalam salah satu episodenya. "Kisah Laskar Pelangi sangat menggugah. Saya belum memang belum baca bukunya, tapi sudah tahu kisahnya. Beberapa teman rekomendasikan juga, di Kick Andy juga pernah diulas," kata Rina (22) mahasiswi UNP. Sesaat setelah ditinggalkan, Rina masih menimang-nimang buku bercover merah dan dibungkus plastik ini. Dia mengaku masih ragu apakah mengambil buku pertama dari Laskar Pelangi, atau buku ketiganya, Edensor.

Waluyo menambahkan semua buku yang dipajang di arena tersebut diberi diskon beragam, meski tidak tertulis kata-kata diskon diatasnya. "Rugi mas kalau tidak beli sekarang, kalau di toko tidak ada diskon lagi. Hanya khusus disini, itu pun sampai 18 November saja," Waluyo menggelitik keinginan saya untuk membeli buku.

Dua kali diberi sugesti, membuat saya takluk dan merogoh saku. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan mengambil dua buku (awalnya tidak berniat mau beli), yaitu buku ke tiga Andrea Hiraka, "Edensor" dan buku ES Ito, "Rahasia Meede". Siapapun orangnya, jika dia penggila buku, pasti akan ngiler melihat buku-buku bagus yang dipajang di arena ini. Apalagi ada buku yang dijual nyaris dalam bentuk kiloan, hanya Rp 10.000/buahnya.

Adalah toko buku Al Fitrah yang menempuh cara itu. Disetiap tumpukan bukunya, penjual memasang kata-kata "harga murah hanya Rp 10 ribu". Itu pun belum semunya, beberapa buku juga diberi diskon sampai 50 %. Bahkan ada buku yang di stand ini didiskon, tapi di stand lainnya dijual dengan harga normal. "Gila diskonnya nyampe 50%," ungkap Nita (21), sembari memperlihatkan buku Becoming Star karya Teguh Winarno kepada saya.

Bursa buku murah dan diskon besar-besarn bukan hanya milik satu stand. Hampir semua stand yang ada, mencoba menggaet pembeli lewat cara itu. "Jarang-jarang ada buku murah. Mumpung sedang ada Book Fair, puas-puasin aja," ujar Feri (29), salah seorang pengunjung. Ditangan pria yang datang bersama istri ini sudah mengantongi sedikitnya empat buku dengan judul yang berbeda.

Book Fair III ini digelar dari 10-18 November 2007 di Gedung Bagindo Aziz Chan. Selain pameran buku, panitia juga mengagendakan hadirnya dua penulis yang tengah naik daun di jagad perbukuan Indonesia. Yaitu Habiburrahman El Shirazy (penulis ayat-ayat cinta) dan ES Ito (penulis Rahasia Meede). Selain itu juga akan ada acara lainnya yaitu lomba celoteh anak, lomba presenter menuju Detak Sumbar oleh Padang TV, lomba baca puisi, lomba dongeng guru TK, lomba mewarnai antartaman kanak-kanak (TK), serta lomba ceramah soal membaca dan buku.

Dengan beragam suguhan acara ini, rugi rasanya kalau anda tidak berkunjung ke arena pameran buku terbesar di Sumbar ini. Tertarik? datangin aja langsung.(*)

Read More......

10 November 2007

Memainkan Si Bubuk Hitam

Sore itu, Syafrigun (33) warga Rt III/VI Teluk Nibuang Kelurahan Gates Kecamatan Lubuk Begalung Padang, sedang asyik-asyiknya mengaduk campuran bahan kimia, potasium, belereng, timah putih dan sedikit gula. Satu demi satu adonan itu dimasukan ke dalam potongan paralon yang sudah disediakan sebelumnya. Semilir angin laut sore itu menelusup masuk lewat jeruji jendela kamarnya.

Tiba-tiba sebuah percikan api memicu terjadinya ledakan. Adonan yang tadi diracik seketika berubah menjadi senjata pembunuh. Syafrigun kaget, tapi sudah sangat terlambat sekali. Ledakan hebat menguncang dan kemudian mengoyak-ngoyak tubuh laki-laki ini. Dia yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan terlempar beberapa meter, dan menghembuskan nafas terakhirnya. Bom ikan (bubuk hitam/black powder) yang saat itu dirakitnya meledak pukul 4 sore.

Peristiwa naas ini tidak akan pernah dilupakan warga sekitar, terutama keluarga dan istri korban, Martaliza (27). Begitu mengetahui peristiwa tersebut, ibu dengan tiga anak ini langsung bertolak dari rumahnya di Jorong Biteh Kenagarian Kacang Singkarak Kecamatan Sapuluah Koto Dibawah Kabupaten Solok. Namun tidak banyak yang bisa dikorek dari ibu Dana (3), Adep (9) dan Icha (8) ini soal aktifitas suaminya. Selama yang diketahuinya, Sayfrigun hanya seorang nelayan biasa. Dia bahkan tak menyangka kalau laki-laki yang telah memberinya tiga putra ini bisa merakit bom ikan.

"Yang wak tahu, abang hanyo nelayan sajo. Sadang untuak marakik bom apolai mambom lauik yo dak tahu awak do," ucapnya lirih. Saat itu dia tengah mendampingi putra bungsunya, Dana yang tertidur.

Dasyatnya ledakan yang menewaskan Syafrigun ini setidaknya tergambar dari ucapan tetangga korban, Ida (45). Saat ditemui beberapa saat terjadinya ledakan, Ida masih terlihat shock. Ini wajar, mengingat ledakan hebat tersebut menyebabkan dinding kamar mandi dan dapur rumahnya nyaris jebol. Saat suara dentuman terjadi, Ida sedang memasak di dapur. Dia tidak menyangka kalau itu berasal dari bom. Sebelumnya dia berfikir kalau ada pesawat jatuh menimpa atap rumahnya.

"Begitu terdengar suara itu, saya langsung berlari keluar rumah. Kemudian baru menuju kearah suara tersebut. Saya melihat kamar yang ditempati Syafrigun sudah rubuh. Ada asap hitam yang mengepul," kata Ida.

Pernyataan Ida itu dibenarkan tetangga lainnya, Ir (30). "Saya sedang di luar rumah, tiba-tiba terdengar ledakan, lalu saya berlari ke belakang. Saya melihat ada asap keluar dari tempat itu," ujar Ir (30).

Ketua Rt III/VI, Indra Sakti dilokasi kejadian mengatakan, ledakan itu bahkan bisa didengarnya dari jarak 500 meter. "Rumah saya berjarak 500 meter dari tempat ini. Saat terjadi ledakan saya sedang dirumah, suaranya keras terdengar," katanya.

Bukti lain yang menggambarkan hebatnya ledakan itu juga bisa dilihat dari kondisi rumah korban. Atap, dinding dan beberapa perabotan yang ada didalam kamar tempat dia meracik bom ikan itu nyaris hancur. Bahkan salah satu bagian dinding rumah tetangga korban juga mengalami keretakan dan satu jendela kacanya pecah.

Aparat kepolisian yang meluncur ke TKP sesat setelah ledakan menemukan beberapa barang bukti. Dikamar tempat Syafrigun merakit bom ikan itu, didapatkan dua potong paralon, satu kompresor, beberapa bongkahan belerang dan satu bungkus rokok. Juga ditemukan satu ember plastik, satu tabung cat ukuran kecil, KTP, jam tangan dan dompetnya.

Sedang korban sendiri baru ditemukan setelah aparat membongkar reruntuhan kamarnya. Saat ditemukan, kondisi korban sangat mengenaskan. Wajahnya nyaris tidak berbentuk. Hidung, mulut, mata dan bagian wajah lainnya hancur. Ledakan tersebut juga menyebabkan tangan dan jari-jarinya terpotong. Aparat kepolisian dilokasi kejadian, bahkan menemukan sepotong tulang yang diduga bagian dari tubuhnya. Disemua sudut kamar, dipenuhi ceceran darah.

Langgar Aturan

Pemakaian bahan peledak dalam menagkap ikan, jelas tidak dibolehkan. Selain merusak lingkungan dan ekosistem laut, pemakaian bahan peledak juga melanggar aturan. Kecuali untuk beberapa hal, itu pun harus ada izin langsung dari Departemen Perindustrian Perdagangan dan diawasi langsung Menteri Pertahanan dan Keamanan.

Pemakaian bahan peledak untuk industri atau komersial selain memiliki persyaratan khusus, juga sesuai kebutuhan perusahaan. Contohnya untuk pertambangan, bahan peledak biasanya digunakan untuk meledakkan bahan tambang.

Kepala Dinas Perindag Sumbar DR Busharmaidi MS, menyebutkan hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan, distributor maupun agen yang mengurus izin untuk mendatangkan bahan peledak maupun bahan kimia berbahaya ke Sumbar.

Penggunaan bahan peledak diatur dalam keputusan presiden (Keppres) No 125 Tahun 1999 tentang bahan peledak. Pada pasal 1 aya 1, bahan peledak adalah bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas, atau campurannya, yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain yang sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas, dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, disertai efek dan tekanan yang sangat tinggi.

Kemudian pasal 1 ayat 3 bahan peledak untuk kepentingan militer dan kepentingan industri (komersial) ditetapkan Menteri Pertahanan Keamanan, dengan memperhatikan pertimbangan menteri yang bertanggung jawab di bidang perindustrian, perdagangan, dan kesehatan. Dan pada pasal 3, Menteri Pertahanan Keamanan menetapkan persyaratan badan usaha setelah mendapat pertimbangan dari menteri yang bertanggung jawab di bidang keuangan, perindustrian, perdagangan dan kesehatan serta Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

"Dengan adanya Keppres ini, sudah jelas penggunaan dan perizinan bahan peledak sangat ketat. Kalau ada nelayan yang bisa mendapatkan bahan itu, kemudian meraciknya untuk dijadikan bom ikan, hal ini pantas untuk dipertanyakan. Bagaimana bisa mereka mendapatkannya," tandas Busharmaidi.

Untuk mengantisipasi masuknya bahan-bahan kimia itu, pihaknya telah mengirimkan tim dari bidang perdagangan dalam negeri, untuk mencek apakah ada distributor Jakarta yang mendistribiskannya ke Sumbar.

Dilakukan Sweaping

Mengantisipasi peredaran bahan kimia pembuat bom ikan, Kapoltabes Padang Kombes Pol Drs Tri Agus Heru Prasetyo mengatakan pihaknya telah melakukan sweaping (penyisiran) di toko-toko yang diduga menjadi pemasok bahan baku bom. Beberapa toko yang dicurigai menjadi mata rantai pasokan bahan kimia itu sudah digeledah, namun belum ditemukan hal-hal yang mencurigakan.

Dugaan sementara kata Tri Agus Heru Prasetyo, bahan baku bom yang menewaskan Syafrigun itu berasal dari Singkarak Kabupaten Solok. Ini dikuatkan dengan ditemukannya dua buah bom ikan di sebuah rumah di nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok, beberapa waktu lalu. Namun sayang, "B" (50) yang diduga kuat sebagai pemilik bahan peledak itu tersebut keburu kabur dan menjadi buronan polisi.

Bukan hanya toko yang disweaping. Aparat juga akan menyisir toko-toko obat dan apotik yang kemungkinan besar memiliki dan menjual bahan-bahan dasar bom ikan itu. Kedepan, aparat, kata Tri Agus, akan lebih memperketat masuknya bahan berbahaya tersebut ke Kota Padang.

"Namun kepada masyarakat kita minta untuk tidak lagi melakukan pengeboman ikan. Selain melanggar undang-udang, juga membahayakan diri sendiri dan orang lain," tandas Tri Agus.(**)

Read More......

08 November 2007

Tsunami 5 Meter ?

Padang memang berpotensi terjadinya gempa dan Tsunami. Namun kabar menyejukan datang dari Ahli geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Danny Hilman Natawidjaja. Rang sumando minang ini mengatakan kalaupun terjadi tsunami di Kota bingkuang, skenario paling buruk hanya setinggi 5 meter saja.

Pernyatan ahli gempa yang sudah meneliti perkembangan gempa Mentawai sejak 15 tahun silam ini sekaligus bantahan prediksi ahli Jerman (sebagimana yang pernah di ekspos Walikota Padang sebelumnya) yang mengatakan Tsunami di Kota Padang bisa mencapai tinggi 20 meter.

"Kondisi paling buruk hanya setinggi 5 meter saja. Itupun secara ilmiah sangat tidak mungkin tercapai. Kondisi paling moderat hanya 4 meter saja. Gelombang Tsunami 5 meter itu terjadi jika pergerakan gempa sejauh 20 meter," kata Danny Hilman Natawidjaja dalam silaturahmi bersama wakil walikota Padang, Drs Yusman Kasim, dirumah dinas wakil walikota, Rabu malam (7/11).

Dijelaskan rang sumando Minang ini pergerakan lempeng Australia yang berada di belakang pulau Mentawai terhadap lempeng eurasia yang ada diantara Padang dan
Mentawai hanya 5 cm/tahun. Dalam rentang 200 tahun ini, artinya pergerakan lempeng itu hanya 10 meter saja. Dengan asumsi seperti itu, artinya secara ilmiah sangat tidak memungkinkan tinggi gelombang 5 meter, karena untuk menghasilkan gelombang 5 meter dibutuhkan ayunan lempeng sejauh 20 meter.

Danny mengatakan dari kajian ilmiah pihaknya, gempa raksasa yang "bertapa" sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik. Hal ini terlihat dari hasil plotting dari gempa-gempa yang sudah terjadi, dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggiran saja. Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan (Bengkulu-red), sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala "sang raksasa", yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai.

"Berdasarkan prediksi saya kondisi Padang cukup mengkawatirkan dengan probabilitas terjadinya gempa dan tsunami 60 %. Potensi gempa akan terjadi Pulau Siberut, Sipora dan Pagai utara (didepan Kota Padang-red). Namun ibarat hujan, tidak seorang pun yang bisa memprediksinya. Bisa saja besok, sebulan lagi, bisa jadi setahun atau tiga puluh tahun lagi seeprti jarak gempa 1797 dengan 1833 lalu" tandas Danny yang saat itu didampingi koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar, Ir Ade Edward.

Sejak gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Sumbar 13 September silam, sudah ribuan kali terjadi gempa susulan. Disebutkannya, gempa susulan itu akan terus terjadi dengan kekuatan yang terus menurun, bahkan sampai setahun setelahnya.
Lalu bagaimana sebuah gempa disebut gempa susulan? Dijelaskannya, pada saat terjadinya gempa berskala magnitudo 8,4 di Bengkulu beberapa waktu silam, diperkirakan meluluhlantakkan zona batas lempeng di bawah wilayah antara Pulau Enggano dan Pagai seluas lebih kurang 300 x 100 km2 dan menggerakkan bumi di atasnya beberapa meter.

"Nah gempa yang terjadi disekitar area 300 x 100 km2 itu adalah gempa susulan. Namun jika suatu waktu ada gempa yang lebih kuat dari itu, artinya gempa yang kecil-kecil ini adalah gempa pendahuluan. Kalau terjadi gempa yang lebih besar, kekuatannya diprediksi hanya 8,5-8,9 SR saja," imbuh bapak dengan satu anak ini.

Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat? Danny menilai kejadian gempa yang sudah berulang kali mengguncang kota ini setidaknya telah mendidik masyarakat untuk bertindak. Masyarakat sudah bisa mengambil keputusan begitu merasakan kekuatan gempa yang lebih besar dari gempa 13 September silam. "Masyarakat Padang pantas bersyukur. Soalnya dari segi kematangan, lebih matang Mentawai. Namun kenyataannya pasca Aceh yang terjadi duluan justru Nias, karena dekat dengan Aceh," tambahnya.(*)

Read More......